JAKARTA, KOMPAS.com – Penerapan perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) yang bakal diberlakukan mulai awal 2010 nanti, dinilai tidak membawa keuntungan bagi perekonomian Indonesia. Diperkirakan, angka impor Indonesia akan membengkak mencapai 104,038 miliar dollar AS dibandingkan tahun ini yang hanya 68,6 miliar dollar AS.
“Kemungkinan (nilai) impor kita akan melonjak sekitar itu dengan hentakan impor, ” ujar Agus Eko Nugroho, Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E-LIPI), saat jumpa pers, di kantornya, Jakarta, Selasa ( 29/12/2009 ) .
Sementara itu, pengamat ekonomi dari LIPI Latif Adam mengatakan penerapan FTA dipastikan akan mengancam industri dalam negeri. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan LIPI menunjukkan sekitar 60 persen produk China masuk dalam kategori barang subtitusi dengan produk Indonesia. Padahal, produk China terbilang lebih unggul dibandingkan produk Indonesia karena memiliki harga yang murah. Dikhawatirkan, industri dalam negeri tidak sanggup bersaing jika FTA mulai diberlakukan.
“Penelitian kita menunjukkan produk China masuk kategori subtitusi bukan komplementer,” tuturnya.
Dia menilai, Indonesia belum siap meghadapi perjanjian FTA. Padahal, penandatanganan perjanjian ini telah dilakukan sejak tahun 2001 lalu. Namun, hingga kini pemerintah belum melakukan persiapan yang matang untuk menghadapi FTA. “Ini sudah lama, tetapi persoalannya tidak ada persiapan yang matang,” tandasnya.
Sumber : Kompas.com


sy kira ada satu pertanyaan, apakah kita punya MAPPING DETIL SUPPLY CHAIN industry2 kita? tentu dg angka2 yg real bukan angka yg dipaksakan atau laporan ABS – maaf. sehingga gap-gap permasalahan kita benchmarking dg negara lain dlm hal ini China dpt diketahui dg teliti dan akurat lalu bebagi tugas tanggung jawab.. siapa berbuat apa dan kapan waktunya sehingga SINERGY terjadi dg baik….ayo berbuat….