Jakarta – Indonesia menjadi negara paling beruntung dalam menghadapi situasi krisis ekonomi dunia yang terjadi, karena ketergantungan perekonomiannya terhadap ekspor kecil.
Hal ini dikatakan oleh Ekonom Senior Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan dalam seminar “Global Economy And The Road To Recovery” di Financial Hall, Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (24/6/2009).
“Indonesia bisa survive dalam situasi krisis ekonomi global karena beruntung, 70 persen dari PDB Indonesia itu disumbangkan oleh konsumsi domestik,” tuturnya.
Fauzi mengatakan negara yang ekonominya bergantung kepada ekspor akan terpukul keras terhadap krisis yang terjadi.
Dipaparkannya, Singapura besaran ekspornya adalah 259,5 persen dari PDB, Hong Kong 212,3 persen dari PDB, Malaysia 103,5 persen dari PDB, Thailand 77,8 persen dari PDB, Korea Selatan 52,9 persen dari PDB, Filipina 38 persen dari PDB, Indonesia 29,8 persen dari PDB, dan Jepang 17,4 persen dari PDB.
“Dampak dari perlambatan ekonomi global bagi Indonesia berpengaruh lewat perlambatan perdagangan dunia yang negatif, namun dampaknya tidak parah. Tapi dampak pada sistem keuangan lebih besar,” papar Fauzi.
Menurut Fauzi, turbulensi pasar keuangan global memicu timbulnya pelarian mata uang asing yang akan berdampak pada volatilitas nilai tukar rupiah. “Selain itu dampak resesi global terhadap Indonesia adalah, krisis likuiditas global yang sangat tajam menurunkan pertumbuhan kredit perbankan,” imbuhnya.
“Jika situasi di AS, perbankan dunia, dan sistem pembayaran semakin parah, maka investasi domestik Indonesia akan terpukul keras kemudian nilai tukar akan berlanjut melemah,” pungkasnya.
Sumber : Detik
