Jakarta – Indonesia menargetkan pertumbuhan volume ekspor ke wilayah Afrika mencapai 20% pada tahun 2009. Optimisme ini dipacu oleh dampak krisis global yang tidak terlalu terasa di benua hitam tersebut.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Komite Tetap Kadin Indonesia untuk Afrika Mintohardjo Halim dalam acara temu dagang Kadin Indonesia dengan 15 Dubes wilayah Afrika, di Jakarta, Jumat (5/6/2009).
Selama ini volume perdagangan Indonesia untuk wilayah sub Sahara Afrika mencapai US$ 2,3 miliar sedangkan jika ditambah untuk wilayah Afrika Utara seperti Mesir, Maroko, Tunusia, Ageria dan Libia bisa mencapai US$ 3,2 miliar per tahun.
“Akan baik hingga 20% minimal, karena Afrika tidak terkena krisis, ekspor kita lebih pada kebutuhan pokok yang ekspor kesana yang tidak terlalu high tech,” katanya.
Ia menjelaskan pasar Afrika masih sangat menggiurkan karena umumnya produk-produk yang diminati hampir mirip dengan kebutuhan pokok orang Indonesia. Meskipun ia mengaku untuk saat ini volume perdagangan yang masih rendah dan jarak yang jauh membuat efisiensi harga barang Indonesia belum maksimal.
“Untuk Afrika Timur tidak telalu jauh, tapi kapal ke sana belum terlalu banyak, harus dari Dubai dulu baru muter, jadi lebih jauh. Selama ini pelayaran pengapalan barang ekspor masih didominasi oleh kapal-kapal dari Singapura dan Malaysia,” terangnya.
Ia menambahkan banyak merek-merek Indonesia di Afrika yang sudah familiar dengan masyarakat Afrika seperti produk Wings, Indofood dan lain-lain. Sementara itu jika dilihat dari jenis barang, produk Indonesia yang laku seperti produk kertas, pipa PVC, makanan jadi, furnitur dan lain-lain.
Sedangkan untuk impor Indonesia dari negara-negara Afrika masih didominasi oleh produk komoditi seperti kapas. Impor kapas Indonesia dari Afrika per tahunnya mencapai US$ 1 miliar dari total impor kapas sebesar US$ 5 miliar.
“Perdagangan kita ke Afrika masih surplus,” jelasnya.
Sumber : Detik.com
