Hujan datang

Sawah-sawah nan hijau di Desa Paketingan, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tak hanya menawarkan keelokan. Di pinggir sawah-sawah itu mudah dijumpai telik. Inilah alat penangkap belut. Dari desa seluas 281 ha itu setiap hari dipanen 100 kg belut.

Volume sebesar itu diperoleh warga yang berburu selama musim hujan. Di musim hujan umumnya belut keluar dari sarangnya. Nah, seorang pencari belut bisa memperoleh 10 kg/hari dari 30-80 telik yang dipasang 12 jam dari pukul 17.00 WIB sampai keesokan harinya pukul 05.00 WIB. Telik sebanyak itu disebar pada 6 petak sawah rata-rata seluas 1.000 m2

Menurut Margono, pengepul setempat, hampir setiap warga di desa yang berpenduduk 2.800 jiwa pada 2005 itu memasang telik di sawahnya. Maklum dari seluruh luas wilayah desa, 80% atau 224 ha di antaranya merupakan sawah. Namun, saat kemarau belut yang keluar desa merosot hingga dua per tiga volume daripada musim hujan, sekitar 30 kg/hari.
Kesohor

Sejak 30 tahun lalu Desa Paketingan-40 km ke arah timur Laut kota Cilacap-sohor sebagai lumbung belut alam di Cilacap. Boleh jadi itu karena tipe tanah sawahnya nonlempung, subur, dan gembur. Kondisi ini disukai belut. ‘Jika tanahnya gembur dan subur, belut akan betah,’ kata Ade Sunarma MSi, peneliti di Balai Penelitian Budidaya Air Tawar (BPBAT), Sukabumi, Jawa Barat. Sebab, tanah seperti itu banyak mengandung humus yang menyediakan cacing tanah-pakan alami belut. Desa tetangga, Bojong, luas sawahnya mencapai 1.486 ha. Namun, produksi belut alam hanya sekitar 50 kg/hari di musim hujan.

Belut Paketingan mendominasi pasar Cilacap. Monopterus albus itu pun jadi bahan baku utama olahan seperti keripik dan goreng belut di sentra olahan di luar desa. ‘Belut dari Desa Paketingan sedikit lebih gurih,’ kata Sumardi, mantan pengepul belut di Banyumas, Jawa Tengah.

Belut paketingan lebih tahan saat dikirim segar. Telik kuncinya. Penangkapan memakai telik menekan tingkat stres. Berbeda bila belut ditangkap menggunakan arus listrik. Belut yang ditangkap mudah lemas dan rawan mati,’ ujar Juwahir, pengepul di Malang yang mencari belut ke berbagai daerah di Jawa.
Dibenam

Tak sulit menangkap belut dengan telik. Alat dari anyaman bambu berbentuk tabung sepanjang 50 cm itu terdiri dari 2 mulut. Salah satu mulut tabung berdiameter 5 cm itu dibenamkan sekitar 2-3 cm. Ujung lainnya dibiarkan terbuka. ‘Tabung itu dipasang miring dengan sudut 15-20 derajat,’ ujar Sumardi. Telik-telik itu kemudian ditaruh di sudut-sudut sawah. Sebab di pojok-pojok itu belut gemar bersembunyi. Sawah seluas 600 m2 bisa ditanam 5-10 telik.

Tak ada aturan mengikat untuk pemasangan telik. Siapa pun, asal warga desa setempat, dapat menanam telik meski bukan di sawah sendiri. Makanya untuk menghindari salah ambil, setiap pemburu memberi tanda. Pita atau tali paling banyak dipakai di ujung telik. Yang terpenting menurut Martono-pencari belut Paketingan-pemasang tidak boleh lupa tempat menaruh telik. ‘Kalau lupa, bisa seharian mencarinya,’ ujar Martono.

Menangkap belut juga butuh umpan. Umumnya umpan berupa cacahan daging keong mas yang dihancurkan. Agar belut tertarik memakan umpan itu, cacahan tadi dicampur bawang putih dan dedak. Adonan lalu dibentuk menjadi bulatan kecil seukuran kelereng sebelum dimasukkan ke telik. Umpan melulu keong pun sah-sah saja. Jumlahnya 1-2 keong untuk setiap telik.

Sumber : Trubus

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment