Sungaipenuh, Kompas – Pemerintah Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, bersama warga daerah itu sejak tahun 2005 mengembangkan industri rakyat sirup kayu manis. Itu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi harga jual kayu manis yang selama beberapa tahun ini terpuruk.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kerinci Damhari, Kamis (1/6) pekan lalu, mengatakan, pengembangan dilakukan karena kayu manis yang merupakan salah satu produk andalan Kerinci harganya merosot hingga Rp 2.500 per kilogram (kg) selama bertahun-tahun.
Produk sirup kayu manis dikembangkan di Desa Siulak Deras Mudik, Kecamatan Gunung Kerinci. Hingga saat ini, di sentra sirup kayu manis itu setidaknya terdapat tujuh kelompok unit usaha industri rakyat dengan total pembuat sirup 50 orang.
“Sudah bertahun-tahun, harga kayu manis selalu anjlok karena permintaannya sedikit, sedangkan produksinya melimpah. Untuk mengantisipasi itu, produk lokal ini perlu dikembangkan menjadi barang jadi supaya harganya membaik,” kata Damhari.
Menurut Damhari, kayu manis atau Cassiavera hanya dipasarkan ke Padang, Sumatera Barat, sehingga harganya sulit bersaing. Akibatnya, sejumlah lahan kayu manis ditelantarkan pemiliknya. Melalui pengembangan kayu manis menjadi barang jadi, diharapkan lahan kayu manis tidak ditinggalkan.
Harga kulit kayu manis kering di Kerinci saat ini sekitar Rp 4.500 per kg. Harga itu naik dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya Rp 2.500 dan setahun sebelumnya Rp 2.000. Harga harga kayu manis tahun 2001 mencapai Rp 7.000 per kg. (lkt)

