Perkembangan Minyak Nilam

Nilam (Pogestemon cablin Benth) merupakan salah satu tanaman penghasil minyak atsiri yang penting, baik sebagai sumber devisa negara maupun sebagai sumber pendapatan petani. Ekspor minyak nilam mencapai puncak tertinggi pada tahun 1993 di-mana volume ekspor mencapai 2.835 ton dan pemasukan devisa masing-masing sebesar US$ 20.691.000. Da-lam 10 tahun terakhir laju peningkatan ekspor mencapai 6 % pertahun. Pada tahun 2004, volume ekspor minyak ni-lam telah mencapai 2.074 ton dengan nilai sebesar US$ 27.137.000. Indone-sia merupakan produsen minyak nilam terbesar di dunia dengan kontribusi se-kitar 90 %. Minyak nilam memiliki potensi strategis di pasar dunia sebagai bahan pengikat aroma wangi pada parfum dan kosmetika (Ditjen Perke-bunan, 2006). Prospek ekspor minyak nilam dimasa datang masih cukup besar sejalan dengan semakin tingginya permintaan terhadap parfum dan kos-metika, trend mode dan belum ber-kembangnya materi subsitusi minyak nilam di dalam industri parfum maupun kosmetika.

Nilam berasal dari daerah tropis Asia Tenggara terutama Indonesia dan Philipina, serta India, Amerika selatan dan China (Grieve, 2003). Di Indo-nesia, sentra produksi nilam di propinsi Nanggroe Aceh Darusalam dan Suma-tera Utara. Pada sentra tersebut meli-batkan banyak pengrajin serta me-nyerap ribuan tenaga kerja. Sebagai penghasil minyak nilam terbesar, Pro-pinsi Nanggroe Aceh Darusalam mem-berikan kontribusi 70 % terhadap pro-duksi nasional (Anonimous, 2003).

Walaupun tanaman nilam telah dibudidayakan selama hampir 100 tahun, di daerah penghasil utama (Aceh dan Sumatera Utara), namun sampai sekarang teknologi pengolahan hasil-nya masih tertinggal sehingga mutu minyak yang dihasilkan masih rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor sosial ekonomi petani dan faktor teknologi yang diakses masih terbatas.

Minyak nilam merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang digunakan dalam industri parfum, sabun dan kos-metika disamping itu juga dapat di-gunakan sebagai bahan pembuatan pes-tisida nabati. Sedangkan limbah sisa dari hasil penyulingan yang jumlahnya berkisar 40 – 50 % dari bahan baku dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan dupa, obat nyamuk bakar, dan pupuk tanaman atau mulsa. Selan-jutnya air sisa hasil penyulingan minyak nilam setelah dipekatkan masih dapat dimanfaatkan sebagai aroma terapi.

Minyak nilam diperoleh dari hasil penyulingan daun, batang dan cabang tanaman nilam. Kadar minyak tertinggi terdapat pada daun dengan kandungan utamanya adalah patchauo-ly alkohol yang berkisar antara 30 – 50 %. Aromanya segar dan khas dan mempunyai daya fiksasi yang kuat, sulit digantikan oleh bahan sintetis (Rusli, 1991). Negara-negara pengim-por utama adalah Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Jerman, Belanda, Jepang dan Australia.

Saat ini harga minyak nilam In-donesia dipasaran dunia sangat berfluk-tuasi. Pada tahun 1986 – 1997, harga minyak nilam berkisar antara Rp. 20.500,- – Rp. 40.000,-/kg sedangkan pada tahun 1997 – 1999, pernah men-capai Rp. 1.100.000,- – Rp. 1.400.000,-/kg dan pada tahun 2004 harga minyak nilam menjadi Rp.162.000,-/kg. Hal ini adalah karena produksi minyak nilam Indonesia tidak stabil dan mutunya ti-dak tetap serta beragam. Tidak stabil-nya produksi dan mutu minyak nilam Indonesia disebabkan karena teknologi pengolahannya yang belum berkem-bang dengan baik.

untuk artikel lengkapnya ada bisa baca di sini.

Sumber : Deptan

2 Comments »

  1. avatar ahmad Says:

    nilam petani di jawa tengah harganya turun drastis kenapa yaaaa?

  2. avatar lamsihar Togatorop Says:

    Saya orng baru mencoba di usaha minyak nilam,saya dapat mengumpulkan minyak nilam 60kg/minggu.Mohon dibantu bagaimana konsep berbisnis di minyak nilam ,dan bagaimana kreterian bila dilihat scara visual dan aroma ,minyak nilam yang saya dapatkan dari sumatera barat.
    terimakasih

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment