Dalam rangka pengembangan kebijakan pemanfaatan dan program ristek guna peningkatan pendayagunaan sumber daya alam sebagai bahan baku pupuk dan energi yang ramah lingkungan, Ketua Dewan Riset Nasional (DRN), Andrianto Handojo dan Ketua Dewan Pupuk Indonesia (DPI), Zaenal Soedjais, melakukan Penandatangan Nota Kesepahaman pada Selasa, 17 Maret 2009, di Plaza Pupuk Kaltim, Jakarta. Hadir menyaksikan acara penandatangan tersebut antara lain Menteri Negara Riset dan Teknologi, Kusmayanto Kadiman; Kepala BATAN, Hudi Hastowo; Kepala Bapeten, As Natsio Lasman; para Pejabat Instansi terkait; dan para Akademisi serta stakeholders DPI khususnya dari industri pupuk.
Andrianto Handojo dalam sambutannya mengatakan bahwa melalui penandatanganan ini diharapkan dapat memperkuat masukan untuk kebijakan yang relevan serta meningkatkan pengembangan perpupukan nasional. Dalam kesempatan ini Andriato Handojo juga mensosialisasikan Program Riset Insentif untuk tahun 2010 dengan pola “semi top down” dimana topik-topik kegiatan riset dan para peneliti diberi kesempatan untuk memilih topik yang dipandang sesuai dan kemudian mengajukan proposal risetnya..

Dalam sambutannya, Zaenal Soedjais berharap Indonesia bukan saja mampu mencukupi kebutuhan pangan secara sustainable bagi rakyatnya, tetapi mampu menjadi pemasok produk-produk pertanian bagi negara-negara sekitar, sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat khususnya para petani. Lebih lanjut Zaenal Soedjais mengatakan bahwa masalah-masalah perpupukan yang dihadapi adalah peningkatan permintaan pupuk akibat peningkatan luasan tanam, bahan baku gas yang semakin langka dan mahal serta penggunaan pupuk sintetis yang overdosis. Zaenal Soedjais juga mengatakan bahwa beberapa tantangan yang dihadapai saat ini adalah pendataan potensi bahan organik serta mineral organik dan pengembangan teknologi yang tepat guna.
Kusmayanto Kadiman saat jumpa pers mengharapkan agar penelitian yang terkait dengan pupuk yang selama ini dikerjakan dengan perguruan tinggi dan badan-badan riset pemerintah dapat bermitra dengan DPI. “Anggota DPI itu mulai dari produsen pupuk kelas besar seperti Pupuk Kaltim, Pupuk Kujang, Pupuk Petrokimia Gersik, tetapi jangan lupa bahwa mereka juga mempunyai anggota-anggota yang masuk kategori UMKM, ini semua berpotensi menjadi mitra untuk komersialisasi dari hasil-hasil riset Perguruan Tinggi dan Badan-Badan Riset Nasional”, Ujar Kusmayanto Kadiman.
Dalam kesempatan yang sama, digelar juga panel diskusi dengan moderator Sesmenneg Ristek, Benyamin Lakitan dengan menampilkan 5 pembicara : Y Taryo Adiwiganda, Bio Industri Nusantara dengan topik “Dari kegiatan Litbang di bidang bioteknologi menjadi Industri Pupuk Hayati”; Iswandi Anas, DPI dengan topik “Pentingnya Bio-organic Fertilizer”; Endang Sukara, LIPI dengan topik “Potensi Sumber Daya Alam Hayati Indonesia dan Peran LIPI dalam mendukung Pengembangan Industri Pupuk Bio Organik”; Wahono Soemariyono, BPPT dengan topik “Inventarisasi lahan, standarisasi, dan sertifikasi serta sinergi komponen ABG guna mewujudkan peningkatan pendayagunaan sumber daya alam sebagai bahan baku pupuk hayati”; Taswanda Taryo, BATAN dengan topik “Potensi teknologi nuklir dalam produk pupuk hayati”. (Humasristek)
Sumber : Situs KRT (18 Maret 2009)
