Jakarta – Nilai ekspor produk makanan dan minuman mengalami penurunan dalam tiga bulan terakhir. Kalangan usaha berharap ada penurunan pembiayaan ekspor untuk membantu menaikkan lagi pasar ekspor.
Berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, nilai ekspor produk makanan dan minuman pada November, Desember 2008 dan Januari 2009 adalah US$ 1,120 miliar, US$ 862 juta dan US$ 405 juta.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Darmawan mengatakan suku bunga pembiayaan ekspor untuk produk makanan diharapkan bisa turun sejalan dengan penurunan BI Rate.
“Untuk membantu ekspor, kita berharap bunga pembiayaan ekspor dapat diturunkan, kalau BI Rate sudah 7,75% mengapa pembiayaan ekspor tidak diturunkan?,” katanya ketika ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis malam (5/3/2009).
Saat ini dikatakan Thomas, suku bunga pembiayaan ekspor masih berkisar antara 13%-14%. “Kita tidak bisa berharap dapat subsidi pembiayaan ekspor tapi setidaknya bunga pembiayaan ekspor bisa disesuaikan dengan penurunan BI Rate,” imbuhnya.
Selain dukungan pembiayaan, pemerintah juga diminta mengizinkan kemudahan impor bahan baku untuk produk makanan dan minuman yang mempunyai kompetensi baik.

“Eksportir kita butuh banyak gula kualitas bagus, untuk bikin gula kualitas bagus kita butuh impor tebu. Bisa tidak kita impor bahan baku gula,” katanya.
Untuk dalam negeri sendiri, Thomas mengatakan permintaan produk makanan dan minuman masih cukup tinggi meskipun di tengah krisis yang terjad.
Sumber : Detik.com
