Mengoptimalkan Potensi Daerah-daerah Selatan Pulau Jawa Sebagai Lumbung Pangan Nasional

Menteri Pertanian, Anton Apriyantono melakukan kunjungan kerja secara marathon selama enam hari (27 Januari sampai dengan 1 Februari 2009) lintas darat menyusuri daerah-daerah selatan Propinsi Banten, Jawa Barat, dan sebagian daerah utara Jawa Tengah. Pak Anton mengatakan bahwa kunjungan kerja ini untuk memantau dan mengevaluasi secara langsung di lapangan apakah program-program Departemen Pertanian selama 4 tahun berjalan ini benar-benar berjalan dengan baik, bermanfaat bagi masyarakat serta sekaligus menampung aspirasi masyarakat khususnya para petani di pedesaan baik yang terkait dengan kendala-kendala yang dihadapi para petani dalam melaksanakan program-program maupun harapan-harapan ke depan terhadap program-program yang digulirkan oleh Departemen Pertanian tersebut.

berdialog-dengan-petani-2

Setidaknya ada 7 program atau kegiatan utama yang menjadi fokus pemantauan selama kunjungan Kerja ini, yaitu (1) Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN), merupakan program yang menitik-beratkan pada upaya pemberdayaan untuk peningkatan produksi beras secara nasional, rata-rata minimal 5% per tahun, dilaksanakan melalui bantuan benih unggul bersertifikat, pupuk organik serta bimbingan dan pelatihan metode Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT); (2) Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). PUAP merupakan salah satu upaya penanggulangan kemiskinan dan pengangguran di pedesaan yang secara umum basis ekonominya adalah pertanian dalam arti luas. Program ini digulirkan melalui bantuan modal usaha yang dikucurkan melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), satu desa satu Gapoktan, serta kegiatan pelatihan dan pandampingan baik dalam manejemen pengelolaan modal dan kegiatan-kegiatan teknis seperti budidaya, pasca panen, pengolahan maupun pemasaran. Gapoktan melalui program PUAP ini diharapkan nantinya akan mampu membentuk dan mengembangkan lembaga keuangan mikro di pedesaan yang dikelola sendiri oleh Gapoktan; (3) Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3). Merupakan kegiatan penguatan lembaga-lembaga keagamaan yang secara umum mereka memang sudah mengakar di masyarakat diantaranya pondok-¬pondok pesantren, subak, dsb melalui bantuan permodalan untuk mengembangkan kegiatan dan usaha di bidang agribisnis, serta kegiatan-kegiatan pelatihan dan pendampingan, dengan maksud utama (a) memperkuat kemandirian di bidang ekonomi dengan agribisnis (b) melatih para santri sejak dini keterampilan di bidang agribisnis sehingga begitu lulus mereka sudah siap mandiri dan (c) mendorong pemberdayaan masyarakat sekitarnya untuk maju di bidang agribisnis; (4) Program Percepatan Swasembada Daging Sapi, melalui kegiatan Sarjana Membangun Desa (SMD) dengan bantuan permodalan untuk usaha pembibitan dan penggemukan sapi, dan subsidi bunga pinjaman bagi masyarakat yang hendak mengembangkan pembibitan sapi, yang diikuti dengan pelatihan-pelatihan teknis dalam ber-agribisnis sapi, juga program pusat perbibitan sapi; (5) Penguatan infrastruktur pertanian, dalam upaya ketersediaan infrastruktur pertanian seperti antara lain jaringan irigasi tersier, jalan usaha tani serta sarana yang mendukung kegiatan pascapanen dan pengolahan hasil pertanian: (6) Penguatan Sistem Penyuluhan dengan pengadaan Tenaga Harian Lepas (THL) dan Pengamat Organisme Penganggu Tanaman (POPT). THL merupakan langkah terobosan Departemen Pertanian untuk menanggulangi kebutuhan Penyuluh Pertanian yang dari tahun ke tahun semakin menurun jumlahnya, sementara pengangkatan penyuluh baru sangat terbatas, sementara POPT merupakan tenaga pendamping petani di bidang perlindungan tanaman terhadap ancaman hama dan penyakit dengan metode pencegahan dan pengobatan alami yang tidak merusak lingkungan. Dan (7) Primatani, merupakan program rintisan dan akselerasi pemasyarakatan inovasi teknologi pertanian spesfik lokasi dilaksanakan secara partisipatif oleh semua pemangku kepentingan pembangunan pertanian pada tingkat desa.

Selama kunjungan kerja, Menteri Pertanian, disamping mendapatkan masukan-masukan dari masyarakat petani, LM3, penyuluh maupun aparat mulai dari desa, kecamatan sampai kabupaten, juga melihat langsung di lapangan bahwa semua program-program tersebut sampai dan dirasakan manfaatnya oleh para petani, LM3, Peserta SMD maupun THL baik dalam peningkatan produksi maupun peningkatan pendapatan dan keterampilan mereka. Dari program P2BN, misalnya, terjadi peningkatan produksi padi 15-32%, pembangunan Jaringan Irigasi Usaha Tani mampu meningkatkan intensitas tanam dari 1 kali setahun menjadi 2 sampai 3 kali setahun, Semua masyarakat yang ditemui dan berdialog dengan Menteri Pertanian, mengharapkan program-program tersebut di atas tetap dilanjutkan dan juga meminta agar areal, desa ataupun jumlah kelompok tani yang dilibatkan juga diperbanyak. Selain itu, untuk THL para petani benar-benar merasakan keberadaannya karena itu hampir semua kelompok tani mengusulkan agar THL-THL diperbanyak dan diapresiasi dengan segera diangkat menjadi PNS. Bagi para petani/kelompok tani yang termasuk dalam program P2BN, kendala kebutuhan pupuk dapat diantisipasi dengan kemandirian menghasilkan pupuk-pupuk organik. Adapun, program Primatani diantaranya terjadinya transfer teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat sehingga memberikan nilai tambah yang maksimal. Salah satu contoh kisah sukses dari program Primatani ini adalah di Desa Cigedu Kabupaten Pemalang, melalui pengembangan ternak terpadu yang hasil sampingannya mampu mensubstitusi penggunaan minyak tanah dengan gas hasil dari biogas, dan sekaligus pupuk organik sebagai substitusi pupuk kimia.

Temuan yang memprihatinkan Menteri Pertanian adalah (1) buruknya prasarana jalan daerah selatan terutama di Daerah Cianjur Selatan, Sukabumi Selatan, Garut Selatan dan Lebak merupakan salah satu faktor penyebab mahalnya sarana produksi, sementara di sisi lain harga produk di tingkat petani sangat rendah di banding daerah lainnya yang lebih maju; (2) hampir semua lahan sawah di daerah selatan adalah lahan tadah hujan, sehingga tanam hanya 1 kali setahun pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau kesulitan air. Di sisi lain aliran sungai di sekitarnya relative banyak. Sentuhan Pemerintah berupa pembangunan bendungan dan irigasi sekunder, akan merubah daerah-daerah selatan ini menjadi sentra¬-sentra baru yang sangat potensial bagi ketersedian pangan secara nasional, dan (3) para petani di daerah selatan ini sangat antusias menanam padi dan sangat responsive terhadap program-program pertanian yang digulirkan pemerintah baik pusat maupun daerah, sehingga pada musim hujan hampir setiap jengkal tanah ditanami padi sampai ke bukit-bukit, sehingga rawan terjadinya erosi. Sementara banyak lahan-lahan PTPN dan perusahaan swasta di sekitarnya tidak dikelola secara baik.

Untuk memperbaiki kondisi tersebut di atas, dan memperkecil kesenjangan antara daerah utara dan selatan di Pulau Jawa serta menjadikan daerah-daerah selatan ini menjadi lumbung-lumbung pangan baru; maka penempatan prioritas (1) pembangunan dan perbaikan jalan utama, desa dan usaha tani; (2) pembangunan bendungan, irigasi primer dan irigasi sekunder juga berbagai sarana penyediaan air seperti; penggunaan kincir angin untuk memindahkan air dari sungai ke jaringan irigasi; pembuatan cek-dam, embung-embung, sumur dangkal, sumur dalam, dan lain-lain. Di beberapa daerah lain persoalan yang terjadi adalah meluapnya air sungai di musim penghujan yang merendam sebagian persawahan menyebabkan puso. Oleh karena itu penting melakukan pengendalian sungai-sungai ini mulai dari hulu sampai hilir dengan kegiatan-kegiatan penghijauan dan pengendalian banjir. Dan (3) pemanfaatan lahan-lahan terlantar milik PTPN dan swasta melalui reformasi agraria; merupakan suatu hal mendesak untuk direalisasikan.

Sumber : Deptan

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment