Peringatan Hari Pangan Sedunia ke 28 Tahun 2008

Tegal Lega, Bandung – Masalah rawan pangan merupakan masalah kronis yang dihadapi oleh bangsa-bangsa di dunia, terutama di Negara berkembang seperti Indonesia. Faktor penyebab timbulnya masalah rawan pangan antara lain: lebih cepatnya laju pertumbuhan penduduk dari pada tingkat pertumbuhan produksi pangan, adanya bencana alam, perubahan iklim dan kemunduran sumberdaya alam dan lingkungan.

Kecenderungan semakin rawannya krisis pangan di dunia ini sebenarnya telah diingatkan oleh FAO sejak diselenggarakan Konferensi Pangan Sedunia di Roma Tahun 1974. Indikasi tersebut semakin nyata, dengan banyaknya negara-negara di beberapa kawasan dunia cenderung mengarah pada kemiskinan sebagai akibat perubahan iklim, kekeringan dan banjir serta krisis ekonomi. FAO juga menekankan bahwa masalah pangan hendaknya jangan dilihat semata-mata hanya masalah di negara-negara yang sedang berkembang, negara-negara majupun hendaknya berperan aktif untuk turut membantu mengatasinya.

Berkenaan dengan hal tersebut, FAO pada Konferensi FAO ke-20 bulan November 1979 di Roma mencetuskan resolusi No. 179 yang disepakati oleh semua Negara anggota FAO termasuk Indonesia. Dalam resolusi tersebut antara lain ditetapkan sejak peringatan World Food Day (Hari Pangan Sedunia/HPS). Tahun 1981 Peringatan HPS dilaksanakan setiap tanggal 16 Oktober, sesuai dengan hari didirikannya FAO yaitu pada tanggal 16 Oktober 1945 di Quebec City, Canada.

Tujuan penyelenggaraan peringatan Hari Pangan Sedunia tersebut adalah meningkatkan kesadaran dan perhatian masyarakat internasional akan pentingnya penanganan masalah pangan baik di tingkat global, regional dan khususnya tingkat nasional, sekaligus memperkokoh solidaritas antar bangsa dalam usaha memberantas kekurangan pangan dan gizi yang masih dialami oleh sebagian penduduk dunia terutama di negara berkembang.

Peringatan HPS ke-28 Tahun 2008 diselenggarakan pada tanggal 3 – 6 Desember 2008 di Lapangan Tegal Lega, Bandung, Jawa Barat. Acara puncak peringatan diselenggarakan pada tanggal 3 Desember 2008 dan dibuka oleh Menteri Pertanian, Anton Apriyantono. Seusai acara pembukan Mentan menyempatkan diri untuk mengunjungi setiap stand di arena pameran, didampingi oleh Gubernur Jawa Barat, Achmad Heryawan dan FAO Representative untuk Indonesia, Mr. Man Ho So.
Dengan memperingati HPS 2008 ini diharapkan menimbulkan kesadaran agar ada program aksi yang mendorong kemandirian petani dapat mewujudkan desa mandiri pangan dan desa mandiri energi dengan mengelola secara cerdik perubahan iklim sehingga ketahanan pangan akan lestari!

Di tingkat internasional, tema yang diangkat pada Peringatan HPS tahun 2008 adalah “Worl Food Security : the Challenges of Climate Change and Bio-energy”. Pemilihan tema ini menekankan pada implikasi dari energi dan perubahan iklim untuk ketahanan pangan dan pertanian. Fokus kepada dampak saat ini dan masa yang akan datang dan memilih strategi baru untuk manajemen sumberdaya alam dan lingkungan, mendukung produksi pertanian yang mantap dan akses kepada pangan dan peningkatan pendapatan dari masyarakat pedesaan dengan memperkuat ketahanan pangan dari suatu populasi dunia yang tumbuh.

Dengan mengadaptasi tema internasional ini, maka tema nasional adalah : ”Ketahanan Pangan, Perubahan Iklim, Bioenergi dan Kemandirian Petani”. Tema Nasional dipilih dengan pertimbangan pentingnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap penguatan ketahanan pangan di tengah dinamika perubahan seperti perubahan iklim dan musim yang tidak menentu, tantangan penyediaan energi terbarukan kaitannya dengan penyediaan bahan baku pangan bagi penduduk dunia. Sedangkan kemandirian petani diperlukan untuk memperkokoh daya saing ekonomi pertanian di pedesaan.

Tema ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang “baru” bagi Indonesia. Soal ketahanan pangan bahwa tahun 2008 ini, Indonesia kembali meraih swasembada pangan, justru di tengah krisis pangan dunia. Tantangan kita adalah melestarikan secara berkelanjutan swasembada beras ini. Oleh karena itu perlu adanya penataan penguasaan lahan yang dilandasi efisiensi skala ekonomi. Peningkatan efisiensi usaha dan produktivitas agribisnis pangan untuk meningkatkan daya saing produk di pasar domestik dan internasional dan pengembangan produksi pangan antar propinsi harus mengacu pada kebijakan nasional ketahanan pangan.

Sumber : Departemen Pertanian

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment